Menatap Pesona Sunset Bumi Tanadoang

Menatap Pesona Sunset  Bumi Tanadoang

Senin, 12 Desember 2011

Lima Bulan Andi Abdur Rahman Gelindingkan Langkah Terobosan Di Kecamatan Pasimarannu

Beragam langkah terobosan digelindingkan Andi Abdur Rahman mengawali masa pengabdian pertamanya sebagai Camat Pasimarannu yang baru menggantikan Camat lama Drs. Syafruddin, MH.
Salah satu langkah terobosan tersebut dituangkannya dalam kegiatan pembangunan “Taman PKK Kecamatan Pasimarannu” yang pemanfaatannya, telah diresmikan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kepulauan Selayar, Hj. Norma Syahrir Wahab pada tanggal, (18/5) lalu.
Selain berhasil membangun Taman PKK Kecamatan, Andi Abdur Rahman juga tercatat  sebagai salah satu tokoh pelopor dalam kegiatan pembangunan pintu gerbang bertuliskan, “Tut Wuri Handayani” yang berlokasi di Kompleks SDN Bonerate, Desa Majapahit
Pemanfaatan pintu gerbang ini sendiri, telah diresmikan secara langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, H. Saiful Arif, SH dalam rangkaian lawatan kunjungan kerjanya di Kecamatan Pasimarannu pada tanggal, (18/5) bulan lalu.
Kepekaan sosok Andi Abdur Rahman terhadap pengembangan dunia pendidikan kepulauan, turut dibuktikannya melalui pemasangan spanduk berisi ajakan kepada masyarakat  bertuliskan, “Semua Harus Peduli Pendidikan” yang di pasang di kawasan gerbang utama Ibukota Kecamatan Pasimarannu.
Tak hanya peduli dengan pengembangan dunia pendidikan. Akan tetapi, figur Andi Abdur Rahman juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang tergolong peka terhadap peningkatan kehidupan beragama di wilayah Kecamatan Pasimarannu.
Hal itu dibuktikan, dengan keberhasilan Andi Abdur Rahman dalam merintis pembangunan Masjid Besar At Taqwa yang ditetapkan sebagai Masjid besar baru Bonerate yang  didukung oleh semangat kebersamaan para tukang batu, tukang kayu, dan swadaya murni para pengusaha di wilayah Kecamatan Pasimarannu.
Masjid ini dibangun di atas lahan tanah milik Umar Aidid (Pengusaha Bonerate di Surabaya) yang selanjutnya dibebaskan dengan mengucurkan dana senilai kurang lebih Rp. 75 Juta.
Nilai tersebut merupakan harga discount dari tarif awal yang mencapai Rp. 100 Juta. Sedangkan sisa harga sebesar Rp. 25 Juta dengan sukarela disumbangkan pemilik lahan untuk kemaslahatan Ummat Islam Kecamatan Pasimarannu.  
Lebih jauh, Andi Abdur Rahman juga tengah merampungkan pembangunan “Tugu Perahu Lambo” Perahu tradisional Pulau Bonerate  yang rencananya akan diberi nama “Tugu Andi Abdur Rahman”.
Sementara itu, pada bidang pengembangan bakat Pemuda dan Olahraga, Mantan Ketua DPP GEMPITA SELAYAR dua periode ini juga tengah merintis Pembentukan dan pembangunan Padepokan Sanggar bela diri/pencak silat/pedang Andi Abdur Rahman.
Kegiatan ini diselenggarakan pemerintah kecamatan, setelah sebelumnya, camat yang dilantik pada tanggal, (27/2) silam tersebut, sukses melaksanakan kegiatan, “Tournament Exhibition Lagundi Football 2011”
Tournamen Exhibition Lagundi Football 2011 yang dibuka langsung Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH ini, diilhami oleh penamaan sebuah perkampungan bersejarah di Kepulauan Bonerate yang ditandai oleh keberadaan kompleks situs pekuburan tua.
Hal ini diungkapkan Sekretaris Camat Pasimarannu, Abd. Wahid dalam kesempatan berbincang dengan wartawan di rumah kediamannya hari, Sabtu, (2/7) siang kemarin.
Menurutnya, tournament sepak bola “Exhibition Lagundi Football 2011” sengaja diselenggarakan, dalam rangka mewujudkan pembangunan nasional di bidang keolahragaan, pengembangan, peningkatan potensi, dan bakat pemuda.
Khususnya, pada bidang persepakbolaan dengan melibatkan seluruh club sepak bola se Kecamatan Pasimarannu yang diundang khusus oleh panitia pelaksana untuk berperan aktif sebagai peserta tournament, kunci Wahid. (fadly syarif)
   
          

Kabupaten Kepulauan Selayar Kawasan Andalan Pengembangan Wisata Bahari

Kehadiran Gubernur Sulawesi-Selatan dan rombongan di arena Takabonerate Island Expedition III  beberapa waktu lalu, diharapkan mampu membuahkan hikmah tersendiri, paling tidak bisa menjadi motivasi yang lebih kuat bagi pemerintah kabupaten dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar dalam menyukseskan pelaksanaan pembangunan, demi percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

            Hal senada diharapkan dapat tercipta melalui kehadiran seluruh peserta “Takabonerate Island Expedition III, baik yang berasal dari dalam negeri maupun tamu dari mancanegara.
            Dalam kaitan itu, ucapan terima kasih terhingga, disampaikan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar kepada Gubernur Sulsel yang telah memberikan dukungan penuhnya melalui kebijakan penyelenggaraan event Takabonerate Island Expedition ke III di Pulau Jinato, Kecamatan Takabonerate.

            Dalam kaitan itu, ucapan terima kasih terhingga, disampaikan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar kepada Gubernur Sulsel yang telah memberikan dukungan penuhnya melalui kebijakan penyelenggaraan event Takabonerate Island Expedition ke III di Pulau Jinato, Kecamatan Takabonerate.
            Secara khusus, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar juga menyampaikan ucapan terima kasih, atas kebijakan Pemprov Sulsel, dalam penetapan Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai kawasan andalan pengembangan wisata bahari di belahan Provinsi Sulawesi-Selatan.
Ucapan yang sama juga disampaikan kepada Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Provinsi Sulawesi-Selatan, panitia pelaksana, dan segenap masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, atas segala bentuk kerjasama dan peran serta yang telah diberikan selama ini, sehingga, even Takabonerate Island Expedition III dapat terselenggara dan berjalan sesuai dengan rencana.
            Ungkapan ini dilontarkan Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs. H. Syahrir Wahab, MM saat menyampaikan sambutan tertulisnya pada rangkaian upacara pembukaan Takabonerate Island Expedition III, Hari, Senin, (21/11) bertempat di Pulau Jinato, Kecamatan Takabonerate.
            Pada kesempatan yang sama, orang nomor satu di Bumi Tanadoang tersebut, juga tak luput, menyampaikan beberapa rangkaian laporan dan informasi yang diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran bagi semua pihak dalam menangkap berbagai peluang usaha, dan investasi.
Khususnya, bagi para pelaku bisnis, sekaligus sebagai bahan pertimbangan bagi pemegang kebijakan, dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Kepulauan Selayar.
            Syahrir berharap, bahan pertimbangan dan gambaran informasi ini akan dapat memberi kontribusi signifikan terhadap pembangunan regional Sulawesi-Selatan dan bila perlu, sampai tingkat nasional, tandasnya. (fadly syarif)                 
  

Selasa, 06 Desember 2011

Penemuan Mayat di Selayar Dipastikan Penumpang KM Senopati Nusantara

Dari 4 Mayat yang ditemukan nelayan di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan, satu diantaranya dipastikan merupakan korban KM Senopati Nusantara yang tenggelam di Perairan Mandalika, Jawa Tengah.
"Pada mayat tersebut, terikat dua buah pelampung utuh, yang pertama bertuliskan KM Senopati Nusantara Semarang 854. Sedangkan pelampung yang satunya tidak bernomor," ujar Koordinator Satlak Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Nadeng, ketika dihubungi wartawan, Senin (29/01/2007) lalu.
  

Mengais Rezeki Dari Ceceran Buah Kelapa Rutinitas Harian Agus, DKK

Hari mulai beranjak petang, saat sekelompok bocah usia sekolah dasar melintas di depanku dengan menenteng delapan biji buah kelapa yang mereka pungut dari semak belukar di sekitar rumahnya yang secara kebetulan dipadati rerimbunan pohon kelapa.
Aktivitas mencari ceceran buah kelapa dari semak belukar di lingkungan Bonea, Kelurahan Benteng Utara, Kecamatan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, diakui Agus sudah merupakan kegiatan rutin yang setiap hari dilakoninya bersama beberapa orang rekannya yang lain, setelah kembali dari sekolah.
Setelah berhasil mengumpulkan ceceran buah kelapa, merekapun beranjak menuju rumah Hadijah, perempuan tua yang sehari-harinya menjadi langganan tempat penjualan buah kelapa hasil jeripayah Agus dan kawan-kawannya.
Hari itu, Selasa, (6/12) petang, Agus dkk, berhasil membawa pulang delapan biji buah kelapa yang dijual seharga Rp. 4000,-. Uang ini, setidaknya cukup untuk menutupi kebutuhan biaya jajan mereka di sekolah.
Selain memungut buah kelapa dari semak belukar, Agus juga mengaku, kerap kali mengumpulkan besi-besi bekas dari tempat pembuangan limbah rumah tangga yang dijumpainya, untuk kemudian dijual kepada penimbang barang-barang rongsokan.  
Oleh Hadijah, kelapa-kelapa tersebut selanjutnya dijual kepada pembeli lain, terutama, kepada para pembuat kue-kue tradisional dengan harga bervariasi antara Rp. 1000,- sampai Rp. 1500,-, tergantung dari ukuran besarnya.
Meski pembeli kelapa langganannya, tak jarang memilih-milih buah kelapa yang akan dibelinya, terlebih, bila yang membeli adalah petani produsen kopra dan minyak fermentasi.(fadly)
   
      
     

Kisah Mistis Menyertai Tersesatnya Jejak Sang Peneliti Tambang Nikel Asal Jakarta

Memasuki hari ke delapan tersesatnya peneliti tambang nikel asal Jakarta bernama Nurman, (48 tahun) beragam cerita mistis tentang keberadaan kampung Dulang, sebuah perkampungan tua misterius di dataran Desa Lambego, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan mulai santer diperbincangkan sejumlah kalangan.
     Menurut penuturan sejumlah narasumber dilapangan, kampung Dulang adalah sebuah wilayah yang terbentuk dari tetesan darah seorang ibu hamil saat akan melahirkan anak pertama dari hasil pernikahan sirinya’ dengan seorang lelaki yang tidak mendapat restu dari pihak keluarganya.
            Sampai akhirnya, terbentuklah sebuah danau menyerupai laut di atas perbukitan, ex. kampung Dulang. Danau inilah yang oleh masyarakat Desa Lambego kemudian diyakini, telah menenggelamkan bangunan rumah kayu milik pasangan suami istri yang dengan sengaja mengasingkan diri ke Kampung Dulang. Setelah, pernikahan mereka tidak mendapat restu dari pihak keluarga wanita.
            Konon, sebelum berubah menjadi danau, kampung Dulang, acap kali menjadi sasaran penyerangan kelompok penyamun. Hingga pada suatu hari, kampung ini sengaja disembunyikan oleh salah seorang tokoh adat setempat.
            Sayangnya, Sang Tokoh Adat  keburu meninggal dunia, sebelum sempat memunculkan kembali kampung Dulang yang hingga saat ini letaknya masih misterius dan hanya bisa diakses orang-orang tertentu yang memiliki pertautan darah dengan penduduk asli Kampung Dulang.
            Penduduk  kampung ini baru akan bisa memunculkan wujud aslinya, tatkala terdengar teriakan informasi berupa undangan hajatan perkawinan dari lingkungan keturunan asli kampung Dulang yang telah berpindah ke kampung lain, sebelum kampung mereka disembunyikan untuk menghindari serangan kelompok penyamun atau perampok.
            Biasanya, teriakan undangan hajatan sengaja disampaikan pihak keluarga dekat, di sekitar lereng bukit Desa Lambego dengan maksud agar teriakan tersebut bisa lebih cepat terdengar oleh penduduk Kampung Dulang.
            Kisah lain menyebutkan, di atas danau menyerupai lautan luas ini tumbuh sebatang pohon cabai yang pohonnya mengalahkan ukuran bangunan rumah masyarakat pada umumnya.
Kendati demikian, pohon cabai raksasa tersebut tidaklah bisa dijumpai oleh sembarangan orang, kecuali mereka yang sedang berada di bawah alam sadar.
Informasi lain yang berhasil dihimpun wartawan menyebutkan, saking luasnya, hamparan danau menyerupai bentangan laut luas di atas perbukitan Desa Lambego ini bahkan sangat memungkinkan pengunjung untuk melakukan aktivitas memancing ikan yang hidup dan tumbuh berkembang di sekitar areal danau.
Namun sayang seribu sayang, sebab untuk bisa sampai ke danau tersebut,  pengunjung harus didampingi oleh warga masyarakat yang memiliki pertautan darah dengan penduduk asli kampung Dulang.
Karena bila tidak, pengunjung bersangkutan dikhawatirkan akan disembunyikan oleh lelembut atau sejenis mahluk halus yang saat ini menghuni Danau Kampung Dulang, Desa Lambego, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
Mungkinkah, peneliti tambang nikel, asal Jakarta, bernama Nurman ini telah menjadi tumbal mahluk halus sejenis lelembut yang menghuni hutan Pulau Lambego ???
Ikuti terus, penelusuran Tim Badan SAR Nasional, Tagana, dan tim evakuasi dari jajaran Mabes Polri, bersama anggota Polsek Pasimarannu, dan Polres Kepulauan Selayar.
Semoga, anjing pelacak, tenaga paranormal, dan helikopter  yang telah diturunkan ke lapangan untuk membantu proses percepatan pencarian korban, bisa segera membuahkan hasil dan menjawab segala teki-teki dibalik tersesatnya jejak Sang Peniliti bernasib malang tersebut.(fadly syarif)     

Hujan Deras Berkah Bagi Masyarakat Petani

Masyarakat petani jagung di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan dapat kembali bernafas lega. Menyusul mulai tingginya curah hujan yang mengguyur daerah ini dalam beberapa pekan terakhir.
Terbukti, pertumbuhan bibit jagung mulai nampak semakin subur, sebagaimana yang terlihat dari pantauan wartawan di bebeberapa lokasi pembibitan jagung di dalam areal kota Benteng hari Selasa, (6/12) pagi.
Terutama di sepanjang areal Jl. Jend. Achmad Yani ke arah selatan Rumah Sakit Umum Daerah KH. Haiyung Kabupaten Kepulauan Selayar yang rata-rata telah disulap menjadi areal lahan pertanian.(fadly)

Helikopter Polisi Jadi Tontonan Gratis Masyarakat Bumi Tanadoang

Helikopter milik Polda Sulselbar yang digunakan dalam proses penyisiran dan pencarian peneliti tambang nikel asal Jakarta yang hilang di Pulau Lambego, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, kembali mendarat di alun-alun tribun lapangan pemuda Benteng.
Pendaratan helikopter yang telah sepekan terakhir melakukan penyisiran di atas langit Pulau Lambego tersebut, kontan menjadi tontonan gratis bagi warga masyarakat Benteng dan sekitarnya. terutama di kalangan anak-anak usia sekolah dasar.
Dari pantauan wartawan di lapangan terlihat, beberapa orang bocah mencoba melihat langsung dari dekat bentuk depan, dan bagian dalam helikopter polisi bernomor lambung P-III 3 ini.
Para bocah tersebut rata-rata datang ke areal lapangan Pemuda Benteng, dengan menggunakan sepeda dan langsung memposisikan sepedanya di samping kiri dan kanan ekor helikopter. (fadly syarif)             

Catatan Pahit Getir Kehidupupan Journalis

Defisit Anggaran Pembangunan Dan Belanja Daerah yang sudah dalam kurun waktu dua tahun anggaran terakhir, melanda lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, tampak mulai berpengaruh signifikan terhadap kelancaran perputaran roda perekonomian di daerah ini.
Bahkan, imbas defisit anggaran mulai turut mempengaruhi kelancaran operasional kegiatan peliputan di kalangan para pekerja kuli tinta di daratan Bumi Tanadoang, terutama untuk mengolah data dan informasi menjadi sebuah berita.
Pasalnya, pembayaran biaya langganan koran pun terkadang baru dibayarkan bendahara pemerintah pada bulan ketiga dalam tahun berjalan. Itupun, bila anggaran daerah tidak sedang mengalami defisit seperti sekarang.  
Dalam kondisi seperti itu, konsekuensi meminjam computer SKPD, sampai Laptop perangkat pemerintah desa terkadang menjadi sebuah hal yang tak lagi dapat terhindarkan.
Terlebih lagi, untuk mendukung kelancaran tugas pengolahan berita yang harus dikirim ke meja redaksi masing-masing media. Cara ini tak jarang dilakukan para pekerja kuli tinta lokal di saat mereka harus mengejar deadline.
Kondisi terparah terkadang dialami wartawan media harian, baik terbitan regional Sulsel, maupun media terbitan nasional yang jam deadlinnya telah ditetapkan redaksi hanya sampai pada pukul 15.00 WITA.
Pada musim paceklik seperti ini, camera yang harusnya menjadi satu-satunya senjata seorang pekerja kuli tinta tak jarang harus ke luar masuk rumah gadai untuk menutupi tingginya biaya operasional pengiriman berita via warnet yang tak jarang pula menumpuk menjadi sebuah catatan utang.
Untuk aku pribadi,  di luar dugaan, pembengkakan nilai utang pengiriman berita di warnet untuk tahun 2011 mengharuskan aku untuk  kembali menggadaikan satu-satunya camera shoot mini DV kesayanganku, senilai Rp. 600.000,- kepada salah seorang rekan dekatku.
Parahnya, karena camera shoot cadangan yang kuharapkan bisa digunakan sementara pun, tiba-tiba mengalami kerusakan mekanik yang membutuhkan biaya perbaikan senilai kurang lebih Rp. 1.000.000,-.
Jangankan untuk memperbaiki camera, membeli tas sandangpun untuk tahun ini rasa-rasanya sangat berat bagiku terlebih disaat kondisi uang simpanan kian menipis. Padahal, harga tas sandang sebenarnya tidaklah seberapa.
Menggunakan tas sobek yang sudah nyaris putus, masih jauh lebih baik, ketimbang aku harus menggadaikan independensi kewartawananku hanya untuk meraup rupiah. 
Meski harus kuakui, biaya kos-an untuk bulan Desember bulan belum lagi lunas terbayar. Dalam kondisi ini, sepertinya aku harus berpikir lebih dalam lagi bagaimana caranya mencetak rupiah yang lebih besar, paling tidak, untuk bisa menutupi biaya kos-anku sebesar Rp. 300.000,- perbulannya.  (*)       

Senin, 05 Desember 2011

SDN Jinato Kejar Perbaikan Nasib Dunia Pendidikan Dibawah Nakhoda Siddik, S.Pd


Perbaikan nasib dunia pendidikan di daerah kepulauan terpencil di wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, kian memperlihatkan titik terang, seiring dengan mulai tumbuhnya kemauan, dan kerja keras dari kalangan para tenaga pendidik untuk mencetak lahirnya peserta didik yang berprestasi, berahlak mulia, berwawasan global yang berlandaskan nilai-nilai luhur budaya sesuai dengan ajaran serta tuntunan agama.
Sebuah keinginan luhur yang kemudian secara spontanitas dituangkan Kepala Sekolah SDN Jinato, Siddik, S.Pd pada penjabaran Visi sekolah yang dipimpinnya saat ini.
Beragam langkah terobosan pun, terus diupayakan Siddik bersama segenap jajaran tenaga guru di sekolahnya demi untuk merefleksikan visi sekolah yang telah dirancang bersama dengan kalangan dewan guru dan komite sekolah, salah satunya dengan terus meningkatkan prestasi akademik lulusan SDN Jinato dari tahun ke tahun, melalui bekal peningkatan bidang keterampilan dan peningkatan prestasi extra kurikuler siswa.
Meski Siddik mengakui, hal tersebut tidak akan dapat berjalan sempurna tanpa dibarengi dengan program peningkatan minat baca siswa dan wawasan sosial  kemasyarakatan.
Sehingga dengan sendirinya, akan terbentuklah peserta didik yang handal, berahlak, dan berbudi pekerti luhur sebagaimana harapan pemerintah pusat pada umumnya dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar pada khususnya, cetus Siddik dalam kesempatan berbincang dengan wartawan di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. (fadly syarif)

Minggu, 04 Desember 2011

Permainan Longga & Berjalan Dengan Kaki Tempurung Lengkapi Keanekaragaman Budaya Pasimarannu

Permainan longga’ dan berjalan dengan kaki tempurung, merupakan dua bentuk permainan tradisional yang pernah tumbuh dan berkembang di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan sejak ratusan tahun silam.
Kedua bentuk permainan tradisional ini mencapai puncak keemasannya pada era tahun 1980-an. Hingga pada akhirnya, permainan longga dan berjalan dengan kaki tempurung mulai pupus di masyarakat dan tergantikan oleh beragam permainan modern, semisal game, point blank, serta permainan berbentuk taruhan yang kerap diistilahkan dengan poker.
Empat permainan yang tumbuh dan berkembang, seiring dengan masuknya zaman computerisasi di era modern saat ini. Permainan longga dan berjalalan dengan kaki tempurung sendiri, baru kembali muncul di masyarakat menjelang akhir tahun 2011, tepatnya, pada medio bulan November.
Kedua permainan tradisional ini pertama kali dimasyarakatkan kembali oleh beberapa orang bocah, di Dusun Limbo, Desa Batu Bingkung, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Menyambut tumbuh dan berkembangnya kembali permainan longga dan berjalan dengan kaki tempurung di tengah-tengah masyarakat Desa Batu Bingkung, Camat Pasimarannu, Andi Abdurrahman, SE, M.Si berharap, “kedua bentuk permainan tradisional ini dapat terus dilestarikan di tengah-tengah masyarakat Kecamatan Pasimarannu dari waktu ke waktu”.
Terutama, dalam rangka mendukung dan menyukseskan terwujudnya Kecamatan Pasimarannu sebagai daerah tujuan wisata terdepan di belahan Kawasan Timur Indonesia.
Rahman berharap, permainan longga dan berjalan dengan menggunakan kaki tempurung, dapat menjadi wahana pelengkap keanekaragaman budaya leluhur di Kecamatan Pasimarannu.
Meski sebelumnya, permainan ini adalah dua bentuk permainan tradisional yang pernah tumbuh dan berkembang di bagian  utara Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, tepatnya di Kecamatan Bontomate’ne, kenangnya. 
Dikatakannya, masyarakat Kecamatan Pasimarannu patut berbangga dengan kekayaan potensi alam wisata bahari, sejarah, maupun keanekaragaman budaya yang terdapat di wilayahnya.
Pasalnya, asset ini adalah merupakan modal besar yang sangat potensial untuk ditumbuh kembangkan dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat melalui program pembangunan investasi kepariwisataan. (fadly syarif)


   
       




Menjadikan Kecamatan Pasimarannu Terdepan Obsesi Mulia Sosok Andi Abdurrahman

Mewujudkan Kecamatan Pasimarannu Terdepan. Setidaknya,  begitulah bunyi petikan obsesi mulia yang acap kali disuarakan sosok Andi Abdurrahman, SE, M.Si dalam kapabilitasnya sebagai Camat Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
 Kalimat terdepan bagi Abdurrahman bukan hanya sekedar slogan tanpa makna. Karena baginya, sebuah wilayah pemerintahan, baru bisa dikategorikan sebagai daerah terdepan, bila indikator ketaatan beragama telah mampu menjadi pondasi dasar terbangunnya rasa persaudaraan yang erat dalam rangka menciptakan lingkungan kehidupan yang damai dan sentosa, berlandaskan, etos budaya, dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan pemerintah, serta, perundang-undangan yang berlaku.
Kondisi ini, tentu saja diharapkan bakal mampu melahirkan kehidupan masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam merefleksikan program pembangunan dan pemerintahan, melalui keaktifan dan peran serta masyarakat di dalam membangun pencitraan kehidupan yang jauh lebih baik.
Sehingga dengan sendirinya, akan terbangunlah lingkungan pemukiman yang selalu nyaman untuk dihuni di tengah-tengah kehidupan masyarakat ramah lingkungan yang senantiasa mengedepankan etos budaya.
Lebih jauh, Andi Abdurrahman, bahkan telah menyatakan kebulatan tekadnya untuk membangun hubungan fungsional dan tata kerja pelayanan sesuai standar operasional prosedur sebagai mesin pendorong dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat, dengan menggalang kemitrausahaan berdasarkan potensi dan karakteristik lokal.
Kendati harus diakui, bahwa pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, baru  akan mampu berjalan efektif, dikala pemerintah berhasil menciptakan hadirnya layanan informasi dan konseling untuk menumbuhkan semangat partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
Tanpa mengenyampingkan upaya untuk mendorong penataan dan pengembangan kawasan pemukiman yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan. Khususnya, di dalam mengembangkan etos kebudayaan, dan harmonisasi kehidupan sosial, berbasis nilai-nilai religius.
Menurutnya, program ini sangatlah penting artinya untuk mengantarkan masyarakat, menuju arah kehidupan yang jauh lebih sejahtera dan berkualitas. Satu hal yang perlu disadari kata Rahman, bahwa pengucapan sumpah jabatan sebagai seorang Camat, merupakan sebuah pernyataan kesiapan untuk mengemban amanah rakyat,yang harus dibayar mahal dengan mempertaruhkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kelompok atau golongan. Sebagaimana penekanan Undang-Undang Dasar tahun 1945, tandasnya. (fadly syarif)    





Jumu, Tokoh Seniman Legendaris Bertangan Bengkok Dengan Segudang Kelebihan

Kehamilan pada usia Sembilan bulan adalah masa-masa paling menegangkan bagi seorang ibu hamil. Pada saat bersamaan, rasa cemas yang disertai penantian panjang berbaur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu hal yang pasti, bahwa tak seorang pun ibu hamil yang pernah mengharapkan anaknya terlahir dalam kondisi tidak normal atau mengalami gangguan fisik pada organ tubuhnya.
Kondisi tak jauh berbeda, tentulah sangat diharapkan pasangan (Alm) Kadi & Saiya, ibu kandung Jumu, pria kelahiran Pulau Bonerate, 10 September 1976 yang harus terlahir dengan tangan bengkok.
Kendati hal tersebut, tak sekalipun pernah membuat Jumu merasa berkecil hati. Dia tetap menjalani hidupnya dengan penuh keceriaan, sama seperti kehidupan manusia normal pada umumnya. Tangan bengkok, tak pernah sedikitpun menjadi hambatan berarti bagi anak kedua dari tiga orang bersaudara ini untuk tetap melakoni rutinitasnya sebagai seorang petani dan peternak kambing di tengah-tengah kehidupan masyarakat Dusun Limbo, Desa Batu Bingkung, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
Selain dikenal sebagai sosok peternak yang ulet dan pekerja keras, Jumu juga disebut-sebut sebagai tokoh seniman legendaries yang sangat piawai memainkan pukulan gendang Pangaru dengan bantuan tangan bengkoknya.
Jauh sebelum, tradisi pajoge’ lahir, dan berkembang di Pulau Bonerate dibawah iringan music electone.  Pada saat bersamaan, Jumu bahkan tak jarang terjun langsung sebagai pelaku pada penampilan atraksi Pangaru dengan bekal kelebihan luar biasa yang sulit diterima oleh logika dan akal sehat. Pasalnya, dengan modal tangan kosong dan berbekal jari pada tangan bengkoknya, konon, Jumu  mampu melukai pasangan bermainnya di arena Pangaru. Terlebih lagi, bila gendang mulai ditabuh.
Kendati lawannya di arena Pangaru, lebih banyak menggunakan senjata tajam, sejenis pedang, dan keris. Dikalangan keluarga dekatnya, Jumu dikenal sangat peka mendengar suara tabuhan music gendang Pangaru. Tak heran, bila sebelum meninggalkan rumah menuju arena Pangaru, Jumu terlebih dahulu akan melakukan serangkaian prosesi ujian kekebalan tubuh dari sabetan senjata tajam.
Bila dalam prosesi tersebut, tubuhnya terluka setelah terkena sabetan keris ataupun benda tajam lain, Jumu akan membatalkan penampilannya di arena Pangaru. Sampai akhirnya, tradisi Pangaru di Dusun Limbo harus sirna, lantaran tergilas oleh perputaran roda zaman yang kian modern. 
Kala itu, Jumu terpaksa beralih profesi sebagai seorang penunggang kuda balapan. Dengan menyadari posisinya, sebagai tulang punggung keluarga yang secara otomatis menggantikan posisi ayahnya yang telah lebih awal berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kendati profesi pelaku Pangaru, dan penunggang kuda, tinggallah menjadi sekedar kenangan masa lalu yang tak kan lagi pernah terulang. Setelah Jumu, memutuskan untuk terjun sebagai seorang petani dan peternak kambing, dengan tujuan  meringankan beban pekerjaan ibunya yang telah memasuki usia rentah.
Begitulah, Jumu melewatkan kehidupan kesehariannya bersama Sang ibu tercinta, di tengah-tengah bangunan rumah kayu berukuran sederhana yang terletak di  Gang 2, Dusun Limbo Timur, Desa Batu Bingkung. (fadly)  

Jumat, 02 Desember 2011

Peneliti Tambang Nikel Asal Jakarta Hilang di Kawasan Hutan Pulau Lambego

Seorang peneliti bernama Nurman, (48 tahun) asal Jakarta yang pada hari Senin, (28/11) kemarin, berangkat ke Pulau Lambego, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan yang bermaksud untuk  meneliti dan melakukan pemetaan kandungan tambang nikel, dinyatakan hilang di sekitar kawasan hutan Pulau Lambego.
Korban diperkirakan hilang, setelah sempat terpisah dari empat orang tim Dinas Koperasi, Perindustrian, Pertambangan, dan Energi Kabupaten Kepulauan Selayar yang turut didampingi salah seorang staf Pemdes Lambego.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Pertambangan & Energi Kabupaten Kepulauan Selayar,  Ir. H. Rustam Noor menandaskan, saat ini, pencarian korban tengah ditangani aparat kepolisian Sektor Pasimarannu dibantu aparat Polres dan Tim Badan Sar Nasional Kepulauan Selayar yang telah diberangkatkan ke TKP hari Rabu, (30/11) malam.
Rustam menambahkan, pemerintah kabupaten telah melaporkan informasi hilangnya korban, ke Markas Besar Polri di Jakarta. Kendati demikian, hingga pukul 24.00 hari, Kamis, (1/12) dini hari, belum ada informasi yang jelas terkait dengan hasil pencarian korban.
Satu yang pasti, bahwa empat orang tim pendamping dari pemerintah kabupaten, bersama dua rekan korban sampai saat ini masih berada di Pulau Lambego.
Ungkapkan ini disampaikan H. Rustam Noor kepada wartawan via telefon selular, hari Jumat, (2/12) siang, yang turut diamienkan kepala bidang pertambangan, Ince Rahim. (fadly)
             


Kamis, 01 Desember 2011

Semoga Sail Takabonerate 2012 Dapat Membangkitkan Sektor Pariwisata

Demikian harapan anggota Komisi D DPRD Provinsi Sulawesi-Selatan dari Fraksi Partai Golkar, DR. (HC). H. Ince Langke IA, MM. Pub. Dia  berharap banyak, semoga Sail Takabonerate tahun 2012 mendatang dapat benar-benar terwujud sebagaimana harapan semua pihak.
Dengan demikian, Sail Takabonerate diharapkan menjadi pemicu sektor pariwisata sebagai salah satu lokomotif perekenonomian masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
Dalam kaitan itu, support dan perhatian dari semua stekholder terkait tentu sangatlah  dibutuhkan, terutama pada tataran pembenahan, penyempurnaan, dan peningkatan infrastruktur dasar penunjang bangkitnya sektor kepariwisataan daerah.
Semisal, sarana perhubungan & telekomunikasi, termasuk aksesibilitas dari dan menuju Takabonerate, serta pemantapan fasilitas akomodasi, air bersih, listrik dan penginapan layak huni bagi para pengunjung.
Dan satu hal yang tak kalah pentingnya adalah edukasi, penyiapan masyarakat untuk menjadi masyarakat pariwisata yang seutuhnya, tandas mantan Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar ini, sembari berucap, Sucses Sail Takabonerate. (fadly)

Penemuan Dua Life Jacket Gegerkan Warga Nelayan Desa Majapahit

Bersamaan dengan mulai bertiupnya angin barat tahun 2011, masyarakat nelayan rumput laut di Desa Majapahit, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, kembali digegerkan dengan penemuan dua buah life jacket (pelampung baju, red) yang ditemukan terdampar di pesisir pantai Desa Majapahit pada hari, Selasa, (21/11) dua pekan kemarin.
Life jacket tersebut masing-masing berwarna orange dan merah. Namun karena kondisinya yang sudah sobek, life jacket berwarna orange langsung dibuang kembali ke laut.
Sedangkan, life jacket berwarna merah tetap diamankan Anjeng (76 tahun) warga masyarakat yang pertama kali menemukan life jacket tersebut. Awalnya Anjeng berpikir, untuk menggunakan life jacket temuannya untuk turun melaut.
Terlebih lagi, keadaan life jacket yang ditemukannya memang tergolong masih cukup layak pakai. Anjeng baru berubah pikiran, saat memperhatikan terdapat tulisan spidol berwarna hitam di balik life jacket yang menunjukkan identitas kapal.
Pada saat bersamaan, Anjeng langsung menghubungi nomor telefon selular salah satu wartawan media terbitan regional Sulsel kenalannya dan menginformasikan perihal barang temuannya itu.
Mendengar informasi yang disampaikan Anjeng via telefon selular, sang wartawanpun langsung meluncur ke lokasi penemuan life jacket untuk melakukan secara langsung terhadap identitas yang tercantum di bagian belakang life jacket dimaksud.
Dari hasil pengamatan di lapangan berhasil ditemukan bukti petunjuk berupa tulisan spidol snowman berwarna hitam bertuliskan : KE 5 P/F KM. 201 SUPT. ROOM. (fadly)
    

Mantan Anggota DPRD Fraksi Partai Golkar Berpulang Ke Rahmatullah

Belum lagi kering air mata duka yang menetes di lingkungan DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, atas  berpulangnya ke rahmatullah Kepala Bagian Hukum Sekretariat DPRD setempat, Andi Rusbandi, Pas.
Pekan ini, tepatnya hari Rabu, (30/11), sekira pukul, 16.30 WITA, linangan air mata harus kembali tumpah di kalangan keluarga besar DPRD menyusul berpulangnya ke rahmatullah, Drs. H. Abd. Rahman Masyariki (70 tahun).
Semasa hidupnya, mantan anggota DPRD dua periode dari Fraksi Partai Golkar ini dikenal cukup kritis dalam beberapa kali menyampaikan pandangan terhadap naskah perubahan anggaran yang disodorkan lembaga eksekutif melalui Sidang Paripurna DPRD.
Almarhum menghembuskan nafas terakhir dalam status sebagai pasien rawat jalan karena di duga mengidap penyakit ferforasi lambung atau yang dalam bahasa medisnya lebih kerap diistilahkan dengan gastritis.
Sosok Rahman Masyariki, pergi dengan meninggalkan satu orang istri, satu orang puteri, dan dua orang cucu. Sebelum diantarkan ke tempat pembaringan terakhirnya, di pemakaman keluarga yang terletak di Desa Parak, Kecamatan Bontomanai, jenazah almarhum terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka di Jl. Raden Ajeng Kartini No. 35 Benteng Selayar.
Kalangan insan pers lokal Kepulauan Selayar mencatat, almarhum, adalah  mantan anggota DPRD Selayar ketiga yang telah berpulang ke pangkuan haribaan untuk selama-lamanya.
Setelah beberapa waktu sebelumnya, Opu Andi Nomang dan Irwan Umar, SH telah lebih awal berpulang ke pangkuan Sang Khalik. (fadly)    

“Sumur Pangaru” Inspirasi Awal Lahirnya Tradisi Pangaru di Desa Sambali

“Sumur Pangaru”, terletak di Dusun Sambali Barat, Desa Sambali, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan. Sebuah bangunan sumur tua, berusia sekira ratusan tahun yang mengilhami lahirnya budaya Pangaru di wilayah Desa Sambali.
Sumur berkedalaman sekira 12 depah ini, merupakan refleksi nyata dari besarnya semangat gotong royong masyarakat Pulau Bonerate secara umum, dan masyarakat Desa Sambali pada khususnya, untuk dapat memperoleh sumber mata air dengan cara melakukan penggalian secara berpindah-pindah.
Setelah sumur pertama yang digali terasa asin, masyarakat kembali melakukan penggalian kedua di lokasi yang sama, dengan jarak sekira 5 meter dari tempat penggalian sumur pertama yang kini telah kembali diratakan dengan tanah oleh masyarakat.
Setelah berhasil mendapatkan sumber mata air yang diimpikan, secara spontanitas masyarakat langsung menghujamkan parang, keris, dan beraneka benda tajam lain, ke tubuhnya masing-masing, sebagai wujud rasa kesyukuran masyarakat Sambali kepada Sang Pencipta alam semesta.
Ritual ini kemudian dilestarikan masyarakat dalam bentuk atraksi Pangaru yang peringatannya digelar pada setiap tahun. Menurut tokoh masyarakat bernama Rajiu (56 tahun), masyarakat Sambali sangat bersyukur.
Pasalnya, sampai sekarang, sumur dengan ketinggian mata air 1 meter 25 ini tak kunjung kering, meski musim kemarau panjang melanda. Bahkan, ketinggian airnya saat ini telah mencapai pusar orang dewasa.
            Sebagai bentuk apresiasi lembaga PPK atas perjuangan panjang masyarakat untuk memperoleh sumber mata air bersih di tengah perkampungan yang didominasi bebatuan.
Pada fase tahun 2003, lembaga PPK mencoba menggelontorkan anggaran biaya pembangunan sumur permanen dan pembangunan fasilitas bak penampungan air bersih yang jaraknya tidak berjauhan dengan lokasi bangunan “Sumur Pangaru” di Desa Sambali.
            Sumur Pangaru yang bentuk awalnya hanya sumur batu tanpa dinding, kini telah berubah wujud menjadi sumur permanen berbalut semen dengan dukungan kamar mandi umum dan keberadaan dua unit bak penampungan air berbahan baku fiber di sekitarnya.
Kendati untuk memperoleh air dari Sumur Pangaru, masyarakat masih harus bekerja keras mendorong gerobak kayu bermuatan jerigen plastik, dan ataupun menjujung ember berisi air di kepala untuk bisa menutupi kebutuhan air sehari-hari di dalam rumah.
Terkait keresahan masyarakat ini, Camat Pasimarannu, Andi Abdur Rahman sangat mengharapkan kontribusi lembaga PNPM Kecamatan Pasimarannu untuk dapat menjadikan program pipanisasi air bersih di Desa Sambali sebagai program skala prioritas di tahun anggaran 2012 mendatang.
 Lebih Rahman berharap, para pelaku PNPM di wilayah pemerintahannya dapat turut berperan serta dalam menyukseskan program penyaluran air bersih ke pemukiman warga masyarakat di Desa Sambali, melalui pemanfaatan mesin pompa air di “Sumur Pangaru” yang selanjutnya akan dialirkan ke masing-masing pemukiman warga.
Menurut Mantan Ketua DPP Gempita Selayar Periode 1992-1996 ini, kontribusi lembaga PNPM menjadi satu-satunya tumpuan harapan Pemerintah Kecamatan Pasimarannu untuk bisa merefleksikan program skala prioritas pemerintah, terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan vital masyarakat akan air bersih.
Pasalnya, dana APBD kabupaten dipastikan tidak akan mampu menutupi besaran kebutuhan dana penyelenggaraan program pipanisasi di Desa Sambali, pungkasnya mengakhiri perbincangan singkat dengan wartawan via telefon selular, hari, Kamis, (1/12) pagi. (fadly) 
     
             

  
    

Rabu, 30 November 2011

Menapaki Jejak Benda Cagar BudayaDi Pulau Bonerate Melalui Pertemuan Sahabat Lama

s

Kerinduan pada seorang kawan lama di lembaga MCS Coremap Phase II Kabupaten Kepulauan Selayar bernama St. Mewah yang kesehariannya aktif bertugas sebagai seorang fasilitator MCS Coremap di Desa Batu Bingkung membawa langkah kakiku untuk singgah dan mengetuk sebuah bangunan rumah batu berukuran sederhana di Dusun Limbo.
Ku ketuk pintu rumah sembari mengucapkan salam, Assalamu Alaikum…,Wa Alaikum Salam…terdengar jawaban dari si empunya rumah. Sampai sejurus kemudian, pintu rumah terbuka perlahan.
Dari balik daun pintu terlihat se sosok wajah yang tak lagi asing bagiku, yah…St. Mewah, sobat lamaku yang langsung mempersilahkan aku masuk dan menduduki kursi plastik warna pink.
kurongoh saku celanaku sembari mengeluarkan bungkusan rokok Class Mild yang selalu setia menemani perjalanan liputanku. Kubakar ujung depannya dengan macis (korek, red), sambil mengarahkan mataku mencari asbak di sekitar ruang tamu.
Pada saat bersamaan, mataku tertuju pada sebuah benda berbentuk piring berwarna kuning keemasan yang sudah kusam menandakan, bila tersebut sudah berusia lebih dari puluhan tahun.
Sejenak, kutertegun menatapi benda yang terpampang dihadapanku. Hati kecilku berkata, benda tersebut adalah benda cagar budaya yang oleh ahli arkeologi kerap diistilahkan dengan BCB.
Ku ayunkan salah satu jari tanganku sambil mengetuk pinggiran benda menyerupai piring yang ada dihadapanku untuk memastikan bila benda itu, adalah benda cagar budaya.
Kuangkat, lalu ku amati bagian pantat bawah benda tersebut secara seksama. Kendati warnanya mulai kusam, namun masih tersisa warna kuning ke emasan yang menjadi cirri khas benda-benda peninggalan keluarga raja di masa lampau.
Setelah segalanya kuanggap pasti, tanganku kembali berkelebat merongoh saku celana yang kukenakan hari itu sembari mengeluarkan camera digitalku. Insting dan kepekaan Jurnalistikku seakan menjadi mahgnit penggerak untuk aku mengabadikan foto benda yang kuyakini sebagai benda cagar budaya tersebut.
Sambil berbincang, mataku ku arahkan pada jam dinding yang telah menunjukkan pukul 11. 30 WITA, pertanda waktu sholat Jum’at kian dekat. Usai ngobrol ngolor ngidul, akupun berpamitan dan melangkah meninggalkan rumah sahabat lamaku, dan selanjutnya menuju Masjid untuk menunaikan shalat Jum’at.
Usai menunaikan shalat Jum’at, aku mulai berkemas melakukan persiapan kegiatan liputan ke Pulau Jinato, tempat dipusatkannya event Takabonerate Island Expedition III.
Tanpa kusadari, bahwa kepadatan agenda liputan dan wawancara dalam kurun waktu satu bulan terakhir, membuat aku nyaris tak punya waktu untuk mencuci pakaian yang satu persatu mulai kotor terpakai.
Sampai akhirny, keberangkatanku kali ini harus membawa setumpuk pakaian basah  yang belum sempat kering, lantaran hujan yang tiba-tiba mengguyur langit Bonerate.
Beruntung, hujan keras yang disertai tiupan angin kencang menjelang keberangkatanku meninggalkan Pulau Bonerate menuju Pulau Jinato, ternyata tidak sempat mempengaruhi kondisi cuaca di sepanjang perjalanan menuju lokasi penyelenggaraan Takabonerate Island Expedition III.
Kondisi cuaca yang lumayan bersahabat, membuat aku begitu menikmati perjalanan panjang dengan menumpangi kapal motor Jabal Rahma. Satu per satu pulau terlampaui.
Sampai sejurus kemudian, mataku tertuju pada pemandangan gugusan pulau Pasitallu yang begitu mempesona. Terlebih, disaat matahari mulai terbenam di atas langit Pulau Jampea.              

TOP RELEASE

Gaul Cell Selayar

Gaul Cell Selayar
Jual Beragam Jenis Telefon Selular & Melayani Service Kerusakan Ponsel
Powered By Blogger