Menatap Pesona Sunset Bumi Tanadoang

Menatap Pesona Sunset  Bumi Tanadoang

Follow by Email

Minggu, 04 Desember 2011

Permainan Longga & Berjalan Dengan Kaki Tempurung Lengkapi Keanekaragaman Budaya Pasimarannu

Permainan longga’ dan berjalan dengan kaki tempurung, merupakan dua bentuk permainan tradisional yang pernah tumbuh dan berkembang di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan sejak ratusan tahun silam.
Kedua bentuk permainan tradisional ini mencapai puncak keemasannya pada era tahun 1980-an. Hingga pada akhirnya, permainan longga dan berjalan dengan kaki tempurung mulai pupus di masyarakat dan tergantikan oleh beragam permainan modern, semisal game, point blank, serta permainan berbentuk taruhan yang kerap diistilahkan dengan poker.
Empat permainan yang tumbuh dan berkembang, seiring dengan masuknya zaman computerisasi di era modern saat ini. Permainan longga dan berjalalan dengan kaki tempurung sendiri, baru kembali muncul di masyarakat menjelang akhir tahun 2011, tepatnya, pada medio bulan November.
Kedua permainan tradisional ini pertama kali dimasyarakatkan kembali oleh beberapa orang bocah, di Dusun Limbo, Desa Batu Bingkung, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar.
Menyambut tumbuh dan berkembangnya kembali permainan longga dan berjalan dengan kaki tempurung di tengah-tengah masyarakat Desa Batu Bingkung, Camat Pasimarannu, Andi Abdurrahman, SE, M.Si berharap, “kedua bentuk permainan tradisional ini dapat terus dilestarikan di tengah-tengah masyarakat Kecamatan Pasimarannu dari waktu ke waktu”.
Terutama, dalam rangka mendukung dan menyukseskan terwujudnya Kecamatan Pasimarannu sebagai daerah tujuan wisata terdepan di belahan Kawasan Timur Indonesia.
Rahman berharap, permainan longga dan berjalan dengan menggunakan kaki tempurung, dapat menjadi wahana pelengkap keanekaragaman budaya leluhur di Kecamatan Pasimarannu.
Meski sebelumnya, permainan ini adalah dua bentuk permainan tradisional yang pernah tumbuh dan berkembang di bagian  utara Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, tepatnya di Kecamatan Bontomate’ne, kenangnya. 
Dikatakannya, masyarakat Kecamatan Pasimarannu patut berbangga dengan kekayaan potensi alam wisata bahari, sejarah, maupun keanekaragaman budaya yang terdapat di wilayahnya.
Pasalnya, asset ini adalah merupakan modal besar yang sangat potensial untuk ditumbuh kembangkan dalam rangka meningkatkan taraf kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat melalui program pembangunan investasi kepariwisataan. (fadly syarif)


   
       




Menjadikan Kecamatan Pasimarannu Terdepan Obsesi Mulia Sosok Andi Abdurrahman

Mewujudkan Kecamatan Pasimarannu Terdepan. Setidaknya,  begitulah bunyi petikan obsesi mulia yang acap kali disuarakan sosok Andi Abdurrahman, SE, M.Si dalam kapabilitasnya sebagai Camat Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
 Kalimat terdepan bagi Abdurrahman bukan hanya sekedar slogan tanpa makna. Karena baginya, sebuah wilayah pemerintahan, baru bisa dikategorikan sebagai daerah terdepan, bila indikator ketaatan beragama telah mampu menjadi pondasi dasar terbangunnya rasa persaudaraan yang erat dalam rangka menciptakan lingkungan kehidupan yang damai dan sentosa, berlandaskan, etos budaya, dan kepatuhan masyarakat terhadap peraturan pemerintah, serta, perundang-undangan yang berlaku.
Kondisi ini, tentu saja diharapkan bakal mampu melahirkan kehidupan masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam merefleksikan program pembangunan dan pemerintahan, melalui keaktifan dan peran serta masyarakat di dalam membangun pencitraan kehidupan yang jauh lebih baik.
Sehingga dengan sendirinya, akan terbangunlah lingkungan pemukiman yang selalu nyaman untuk dihuni di tengah-tengah kehidupan masyarakat ramah lingkungan yang senantiasa mengedepankan etos budaya.
Lebih jauh, Andi Abdurrahman, bahkan telah menyatakan kebulatan tekadnya untuk membangun hubungan fungsional dan tata kerja pelayanan sesuai standar operasional prosedur sebagai mesin pendorong dalam menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat, dengan menggalang kemitrausahaan berdasarkan potensi dan karakteristik lokal.
Kendati harus diakui, bahwa pergerakan aktivitas ekonomi masyarakat, baru  akan mampu berjalan efektif, dikala pemerintah berhasil menciptakan hadirnya layanan informasi dan konseling untuk menumbuhkan semangat partisipasi dan pemberdayaan masyarakat.
Tanpa mengenyampingkan upaya untuk mendorong penataan dan pengembangan kawasan pemukiman yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan. Khususnya, di dalam mengembangkan etos kebudayaan, dan harmonisasi kehidupan sosial, berbasis nilai-nilai religius.
Menurutnya, program ini sangatlah penting artinya untuk mengantarkan masyarakat, menuju arah kehidupan yang jauh lebih sejahtera dan berkualitas. Satu hal yang perlu disadari kata Rahman, bahwa pengucapan sumpah jabatan sebagai seorang Camat, merupakan sebuah pernyataan kesiapan untuk mengemban amanah rakyat,yang harus dibayar mahal dengan mempertaruhkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kelompok atau golongan. Sebagaimana penekanan Undang-Undang Dasar tahun 1945, tandasnya. (fadly syarif)    





Jumu, Tokoh Seniman Legendaris Bertangan Bengkok Dengan Segudang Kelebihan

Kehamilan pada usia Sembilan bulan adalah masa-masa paling menegangkan bagi seorang ibu hamil. Pada saat bersamaan, rasa cemas yang disertai penantian panjang berbaur menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu hal yang pasti, bahwa tak seorang pun ibu hamil yang pernah mengharapkan anaknya terlahir dalam kondisi tidak normal atau mengalami gangguan fisik pada organ tubuhnya.
Kondisi tak jauh berbeda, tentulah sangat diharapkan pasangan (Alm) Kadi & Saiya, ibu kandung Jumu, pria kelahiran Pulau Bonerate, 10 September 1976 yang harus terlahir dengan tangan bengkok.
Kendati hal tersebut, tak sekalipun pernah membuat Jumu merasa berkecil hati. Dia tetap menjalani hidupnya dengan penuh keceriaan, sama seperti kehidupan manusia normal pada umumnya. Tangan bengkok, tak pernah sedikitpun menjadi hambatan berarti bagi anak kedua dari tiga orang bersaudara ini untuk tetap melakoni rutinitasnya sebagai seorang petani dan peternak kambing di tengah-tengah kehidupan masyarakat Dusun Limbo, Desa Batu Bingkung, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan.
Selain dikenal sebagai sosok peternak yang ulet dan pekerja keras, Jumu juga disebut-sebut sebagai tokoh seniman legendaries yang sangat piawai memainkan pukulan gendang Pangaru dengan bantuan tangan bengkoknya.
Jauh sebelum, tradisi pajoge’ lahir, dan berkembang di Pulau Bonerate dibawah iringan music electone.  Pada saat bersamaan, Jumu bahkan tak jarang terjun langsung sebagai pelaku pada penampilan atraksi Pangaru dengan bekal kelebihan luar biasa yang sulit diterima oleh logika dan akal sehat. Pasalnya, dengan modal tangan kosong dan berbekal jari pada tangan bengkoknya, konon, Jumu  mampu melukai pasangan bermainnya di arena Pangaru. Terlebih lagi, bila gendang mulai ditabuh.
Kendati lawannya di arena Pangaru, lebih banyak menggunakan senjata tajam, sejenis pedang, dan keris. Dikalangan keluarga dekatnya, Jumu dikenal sangat peka mendengar suara tabuhan music gendang Pangaru. Tak heran, bila sebelum meninggalkan rumah menuju arena Pangaru, Jumu terlebih dahulu akan melakukan serangkaian prosesi ujian kekebalan tubuh dari sabetan senjata tajam.
Bila dalam prosesi tersebut, tubuhnya terluka setelah terkena sabetan keris ataupun benda tajam lain, Jumu akan membatalkan penampilannya di arena Pangaru. Sampai akhirnya, tradisi Pangaru di Dusun Limbo harus sirna, lantaran tergilas oleh perputaran roda zaman yang kian modern. 
Kala itu, Jumu terpaksa beralih profesi sebagai seorang penunggang kuda balapan. Dengan menyadari posisinya, sebagai tulang punggung keluarga yang secara otomatis menggantikan posisi ayahnya yang telah lebih awal berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kendati profesi pelaku Pangaru, dan penunggang kuda, tinggallah menjadi sekedar kenangan masa lalu yang tak kan lagi pernah terulang. Setelah Jumu, memutuskan untuk terjun sebagai seorang petani dan peternak kambing, dengan tujuan  meringankan beban pekerjaan ibunya yang telah memasuki usia rentah.
Begitulah, Jumu melewatkan kehidupan kesehariannya bersama Sang ibu tercinta, di tengah-tengah bangunan rumah kayu berukuran sederhana yang terletak di  Gang 2, Dusun Limbo Timur, Desa Batu Bingkung. (fadly)  

TOP RELEASE

Gaul Cell Selayar

Gaul Cell Selayar
Jual Beragam Jenis Telefon Selular & Melayani Service Kerusakan Ponsel